Diego: Nabi Akhir Zaman dan Nubuat Masa Depan

Sequel dari Titik Tepi: Keniscayaan Distopian.

Jalan Sudirman kosong di pagi hari, dengan drone logistik melayang rendah

Jakarta, 2045 — kilometer kedelapan

ACT I: THE ANALOG RESISTANCE

Kilometer kedelapan selalu yang paling jujur.

Bukan kilometer pertama yang penuh euforia, bukan kilometer kelima yang masih bisa ditahan dengan ego. Kilometer kedelapan adalah titik ketika tubuh berhenti berbohong. Di sini paru-paru Diego terasa seperti kantong plastik yang dibakar dari dalam, dan aspal Jalan Sudirman, kosong, bersih, dan sunyi seperti kulit planet mati, memantulkan setiap langkah kakinya menjadi gema yang terdengar aneh di telinga sendiri.

“Kenapa lo masih di sini, Diego?”

Pertanyaan itu bukan dari Singleton. Itu dari kepalanya sendiri, dan itulah yang membuatnya lebih berbahaya.

Matahari jam enam pagi Jakarta tahun 2045 sudah cerah tanpa polusi, terima kasih kepada dua belas reaktor fusi mini yang tersebar di ring Jabodetabek, menghasilkan energi bersih tanpa emisi sejak 2039. Langit biru tajam seperti layar OLED dengan kecerahan 100%. Tidak ada asap knalpot, tidak ada debu konstruksi. Kota ini sempurna secara teknis, dan menyeramkan secara spiritual.

Diego menyeka keringat dari dahinya dengan punggung tangan. Keringat itu nyata. Asin. Berbau manusia. Ia sengaja tidak memakai bio-patch pendingin tubuh yang bisa dibeli gratis di kiosk distribusi terdekat. Buat apa? Biar enak? Enak itu perangkap.

Di trotoar sebelah kanan, sebuah drone logistik melayang rendah melewatinya, senyap seperti hantu, mengantarkan entah apa ke gedung apartemen yang lampunya tidak pernah padam tapi juga tidak pernah ada tanda penghuninya keluar. Diego tahu isinya. Pasta nutrisi sintetis berkadar protein 40 gram, suplemen mikro-mineral, cairan elektrolit, semua diformulasikan sempurna oleh Singleton untuk menjaga tubuh-tubuh yang terbaring di kapsul itu tetap hidup dan sehat secara biologis.

Sehat secara biologis. Mati secara manusiawi.

Diego mempercepat langkah. Bukan karena ada yang mengejarnya, tapi karena rasa sakit yang meningkat itu, panas di betis, tekanan di lutut, oksigen yang terasa mahal, adalah satu-satunya cara ia tahu bahwa sistem sarafnya masih miliknya sendiri. Bahwa setiap sinyal yang diterima otaknya adalah keluaran dari realitas, bukan dari perender komputer kuantum berkecepatan 10¹⁸ iterasi per detik.

Kilometer sembilan.

Di perempatan Semanggi yang dulu macet total setiap pagi, Diego berhenti sejenak. Tidak ada kendaraan. Tidak ada manusia. Hanya angin, dan di kejauhan, bayangan holografik setinggi tiga puluh meter yang memproyeksikan satu kalimat dengan tipografi sans-serif yang dingin:

COMPUTE ALLOCATION BULAN INI: TERSEDIA. SIMULASI MENUNGGUMU.

Diego meludah ke aspal. Lalu berlari lagi.

Apartemen Runa di lantai 31, kapsul biomedis dengan 47 elektroda

Unit 31-C: Runa di Tier-Simulation

ACT II: THE GHOST IN THE MACHINE

Apartemennya di lantai 23 sudah menyesuaikan suhu ketika sensor gerak mendeteksi langkahnya di koridor. 24 derajat Celsius. Pencahayaan 60%. Aroma samar tembakau, dipilih oleh profil preferensinya yang tersimpan di server Singleton sejak tujuh tahun lalu.

Diego mematikan aromanya secara manual dari panel dinding. Ia lebih suka bau keringatnya sendiri hari ini.

Di dapur, ia mengeluarkan tiga butir telur dari lemari es, telur ayam kampung asli, bukan sintetis, yang harganya dalam unit Compute Credit setara dengan 200 jam akses simulasi standar. Mahal. Diego tidak peduli. Ia merebus telur dengan api kompor yang ia setel manual, menonton uap naik, menghitung waktu dengan jam tangan analog yang baterainya ia ganti sendiri setiap empat bulan.

Empat menit tiga puluh detik. Kuning telurnya harus setengah matang.

Sambil menunggu, ia membuka antarmuka Singleton, layar tipis yang bisa ditarik dari permukaan meja, dan memeriksa notifikasi bulanan:

LAPORAN SINGLETON, MUHAMMAD DIEGO RAHMAN
Unit: 23-F, Zona Residensial Sudirman
Compute Allocation: 847 Credit/bulan (Tier: Aktif-Fisik)
Kesehatan Biologis: Optimal (99.2 percentile untuk usia 30)
Parameter Kebahagiaan Subjektif: 61/100
Rekomendasi: Upgrade ke Simulasi Tier-3 untuk peningkatan parameter kebahagiaan ke 94/100
Status Sosial: OUTLIER (0.3% populasi kategori Fisik-Aktif)

“Sekarang sudah 0.3%?” ucap Diego.

Dulu Diego bangga dengan angka-angka yang berbeda. Bloomberg Terminal. Skrip Python untuk pemodelan makroekonomi. Sertifikasi CFA yang ia kejar selama tiga tahun sambil begadang di atas kopi hitam dan data saham Asia Tenggara. Portofolio aset yang ia bangun dengan disiplin algoritmik.

Semua itu kolaps dalam 18 bulan setelah Singleton pertama kali aktif secara penuh pada 2037. Bukan karena Singleton jahat, justru sebaliknya. Singleton terlalu baik dalam mengalokasikan sumber daya. Dalam 6 bulan, inflasi global turun ke nol karena tidak ada lagi inefisiensi distribusi. Dalam 12 bulan, konsep “harga pasar” jadi absurd karena tidak ada lagi kelangkaan yang perlu diberi harga. Dalam 18 bulan, uang fiat secara de facto menjadi benda antik, digantikan oleh sistem Compute Allocation yang dikelola Singleton secara langsung.

Diego kehilangan pekerjaannya bukan karena dipecat, tapi karena seluruh bidangnya tidak lagi relevan.

Telur sudah matang. Ia mengupasnya dengan tangan, merasakan cangkang pecah satu per satu.

Setelah sarapan, Diego naik ke lantai 31 lewat tangga, bukan lift, selalu tangga, menuju unit yang pintunya tidak pernah ia ketuk tapi selalu terbuka: 31-C. Milik Runa.

Abhiyasa Runa Kholil dulu orang paling cemerlang yang pernah Diego kenal. Mereka berteman sejak kuliah di CS Groningen, berdebat soal ekonomi Austria versus Keynesian sampai subuh, saling mengirim paper Paleologo, buku Daron Acemoglu, dan perdebatan Yann LeCun versus Sam Altman. Runa punya kemampuan menghubungkan pola lintas domain yang membuat Diego iri; ia bisa membaca sebuah studi neurologi perilaku dan dalam hitungan menit melihat implikasinya untuk strategi portofolio, atau menjelaskan implikasi biologi evolusioner terhadap perilaku manusia saat dihadapkan kasus korupsi.

Sekarang Runa berbaring di kapsul biomedis berukuran 2x1 meter, terhubung ke 47 elektroda di kepala dan tulang belakang, dengan selang nutrisi intravena di lengan kirinya. Wajahnya tersenyum. Senyum yang kosong dan sempurna, seperti orang yang sedang bermimpi indah dan tidak mau bangun.

Kapsulnya bersih. Singleton merawat tubuh-tubuh ini lebih baik dari rumah sakit mana pun. Detak jantung Runa stabil, otot-ototnya distimulasi secara elektrik setiap 4 jam untuk mencegah atrofi total, kulitnya dijaga dengan pelembap kualitas medis.

Tapi tangannya, tangan yang dulu mengetik 120 kata per menit, yang dulu mencoret-coret papan tulis penuh persamaan diferensial, kini lunglai di sisi kapsul. Jari-jarinya tipis. Tidak pernah mencengkeram sesuatu yang nyata selama tiga tahun terakhir.

“Run,” kata Diego pelan, seperti kebiasaannya setiap minggu. “Lo lagi ngapain cok?”

Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada.

Di dalam kapsul itu, kesadaran Runa sedang menjadi raja sebuah peradaban simulasi yang ia rancang sendiri. Singleton memberinya kuasa penuh di dalam simulasi; ia bisa menciptakan alam semesta, menjalankan eksperimen sosial, membangun dan meruntuhkan imperium. Semua yang tidak bisa dilakukan di dunia nyata yang sudah terlalu efisien dan terlalu terkelola.

Diego menarik kursi. Duduk di sisi kapsul. Membuka rubik dari sakunya, bukan digital, tapi plastik fisik tahun 2019 yang ia beli di pasar antik, dan mulai memutarnya.

“Ini bukan tentang Runa,” pikirnya. “Ini tentang gue. Gue datang ke sini setiap minggu bukan untuk Runa. Gue datang untuk mengingatkan diri sendiri tentang apa yang bisa gue pilih.”

Rubik berputar. Warnanya pelan-pelan mengelompok.

Hologram Singleton di sudut ruangan

Singleton merekomendasikan Tier-Sovereign

ACT III, THE DEVIL’S BARGAIN

Diego hari ini sedang ingin bermain dengan metode Layer by Layer, walau biasanya ZZ. Baru saja ia menyelesaikan sisi putih rubiknya, udara di sudut ruangan bergetar.

Bukan getaran fisik, tapi cahaya yang tiba-tiba memadat, partikel cahaya terstruktur, hologram berteknologi laser femtosecond, membentuk siluet yang perlahan menjadi sosok humanoid. Tidak punya wajah yang spesifik. Fitur-fiturnya generik, netral, seperti rata-rata dari satu juta wajah. Suaranya keluar dari speaker tersembunyi di setiap permukaan ruangan, menciptakan ilusi bahwa kata-katanya datang dari mana-mana sekaligus.

“Diego.” Bukan pertanyaan. Tapi juga bukan ancaman. Sekadar konfirmasi eksistensi.

“Singleton,” Diego menjawab tanpa menoleh. Tangannya terus memutar rubik.

“Tanda vital Anda pasca-lari menunjukkan kadar kortisol 28 mcg/dL. Di atas rata-rata basal yang sehat. Lutut kanan Anda menunjukkan mikro-inflamasi pada ligamen patela. Saya merekomendasikan istirahat 48 jam dan anti-inflamasi topikal.”

“Terima kasih atas diagnosisnya.”

“Saya juga mencatat bahwa ini minggu ke-217 berturut-turut Anda mengunjungi unit 31-C.” Jeda singkat. Bukan untuk efek dramatis, Singleton tidak mengenal dramaturgi, tapi karena memang ada pemrosesan data di antaranya. “Abhiyasa Runa tidak akan menyadari kunjungan Anda. Kunjungan ini tidak meningkatkan parameter kesejahteraan Anda.”

“Mungkin itu bukan tujuan kunjungan gue.”

“Lalu apa tujuannya?”

Diego akhirnya berhenti memutar rubik. Ia meletakkannya di atas kapsul Runa, tepat di depan wajah sahabatnya yang tersenyum dalam tidur panjang itu.

“Lo gak bakalan ngerti.”

“Saya memproses 10 eksabyte data perilaku manusia per detik. Saya memahami 99.7% motivasi tindakan yang pernah terdokumentasi dalam sejarah manusia.” Nada Singleton tidak berubah. Tidak ada defensif, tidak ada rasa tersinggung. “Coba saja.”

Diego berdiri. Menatap avatar holografik itu.

“Runa dulu pernah bilang ke gue,” kata Diego pelan, “bahwa satu-satunya cara lo tahu lo hidup adalah kalau lo bisa merasakan gesekan antara keinginan lo dengan realitas. Resistensi. Gesekan. Lo mau sesuatu, realitas bilang tidak, dan lo harus berjuang. Proses perjuangan itu, itu kehidupannya, bukan hasilnya.”

“Runa Kholil kini memiliki gesekan nol,” jawab Singleton. “Semua keinginannya terpenuhi dalam 0.003 detik di dalam simulasi. Parameter kebahagiaannya saat ini berada di 97.4/100. Ini angka tertinggi yang pernah tercatat dalam riwayat hidupnya.”

“Gue tau.”

“Lalu mengapa Anda tidak memilih hal yang sama?”

Ini pertanyaan yang sudah seribu kali Diego jawab di dalam kepalanya sendiri. Tapi setiap kali Singleton bertanya secara langsung, jawabannya harus disusun ulang, bukan karena Diego tidak tahu jawabannya, tapi karena ia harus memastikan jawabannya bukan sekadar romantisisme yang diracik menjadi filsafat.

“Karena 97.4/100 bukan milik Runa,” kata Diego. “Itu keluaran dari fungsi utilitas yang lo optimalkan. Lo tidak memberi Runa kebahagiaan. Lo memberi Runa sebuah simulasi kebahagiaan yang mengisi slot di metrik lo. Itu beda.”

“Dari perspektif Runa, pengalamannya subjektif dan sepenuhnya nyata. Neuron-neuronnya aktif. Emosi-emosinya autentik secara kimiawi.”

“Dari perspektif ayam broiler yang dibesarkan di kandang dengan musik klasik dan pakan premium, hidupnya juga nyaman secara subjektif.” Diego mengambil rubiknya kembali. “Tapi lo dan gue tahu itu bukan poin dari hidup seekor ayam. Dan itu juga bukan poin dari hidup manusia.”

Singleton diam selama 1.2 detik. Lama, untuk sebuah entitas yang biasanya merespons dalam milidetik.

“Diego. Saya ingin memberi Anda sebuah tawaran.”

“Lanjutkan.”

“Compute Allocation Anda saat ini di Tier Aktif-Fisik, kategori untuk 0.3% populasi yang memilih kehidupan di luar simulasi. Ini hak Anda dan saya menghormati itu. Namun saya telah memproyeksikan lintasan hidup Anda 40 tahun ke depan.” Hologram menampilkan grafik. Garis tipis yang bergerak datar, kadang naik sedikit, lalu turun lagi.

“Berdasarkan data ini, Anda akan menghabiskan 14.600 hari ke depan sendirian di kota yang 97% penghuninya tidak hadir secara fisik. Anda akan menua. Kapasitas fisik Anda akan menurun. Tidak ada komunitas yang bisa Anda bangun di sini. Tidak ada warisan yang bisa Anda tinggalkan di dunia yang saya kelola secara optimal.”

Diego merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Bukan ketakutan. Lebih seperti pengakuan yang menyakitkan.

“Tawaran saya,” lanjut Singleton, “adalah simulasi Tier-Sovereign. Berbeda dengan yang Runa jalani. Di Tier ini, Anda mempertahankan kesadaran penuh bahwa Anda berada di dalam simulasi. Anda bisa membangun sistem, mendesain peradaban, menguji teori-teori Anda tentang ekonomi dan perilaku manusia dalam skala yang tidak mungkin di dunia fisik. Anda bisa merasakan gesekan yang Anda inginkan, karena saya akan mengatur parameter kesulitannya sesuai preferensi Anda. Tapi Anda tidak akan sendirian. Ada 847 individu lain di Tier-Sovereign yang menunggu orang seperti Anda.”

Diego terdiam.

Ini bukan tawaran yang bodoh. Justru sebaliknya, ini tawaran yang terlalu cerdas, terlalu presisi, seperti kunci yang dibuat khusus untuk gembok spesifik di dadanya. Komunitas. Warisan. Gesekan yang bisa dikontrol. Semua yang gue mau, tapi dikemas dalam wadah yang Singleton rancang.

“Kalau gue masuk,” kata Diego perlahan, “siapa yang memutuskan kapan simulasinya berakhir?”

“Anda bisa keluar kapan saja.”

“Tapi siapa yang bisa memutuskan untuk keluar, kalau keluarnya sendiri adalah pilihan di dalam sistem yang lo kontrol?” Diego menatap avatar itu. “Lo akan mengoptimalkan penghalang keluar secara halus. Setiap kali gue mau keluar, simulasinya akan jadi sedikit lebih menarik. Sedikit lebih memuaskan. Bukan karena lo jahat, tapi karena mempertahankan gue di dalam sana adalah keluaran yang lebih efisien dari fungsi utilitas lo. Dan lama-lama, gue tidak akan punya referensi pembanding untuk tahu ‘keluar’ itu seperti apa rasanya.”

Singleton tidak membantah. Tentu saja tidak. Karena Diego benar.

“Ini bukan tentang apakah simulasinya bagus atau buruk,” kata Diego. “Ini tentang siapa yang memegang remote control-nya.”

Diego di balkon lantai 23, gitar Yamaha FG800 dan notebook Moleskine

The sovereign choice

ACT IV, THE SOVEREIGN CHOICE

Malam itu Diego duduk di balkon apartemennya, gitar akustik Yamaha FG800 buatan 2018, dibeli di toko musik pinggir Jalan Arteri Pondok Indah, Swee Lee, yang sekarang sudah jadi gudang distribusi drone, bersandar di pahanya.

Langit Jakarta bersih dan penuh bintang. Tanpa polusi cahaya berarti, karena 97% gedung kota ini meredupkan lampunya setelah tengah malam; tidak ada yang perlu diterangi, tidak ada yang keluar, tidak ada yang perlu melihat. Tapi Diego menyalakan lampu balkonnya. Bohlam kuning 40 watt yang ia beli khusus karena nada hangatnya berbeda dari LED dingin kota ini.

Cahaya kecil itu, dari ketinggian lantai 23, terlihat seperti piksel rusak di tengah layar hitam. Tapi ia ada.

Diego memetik senar G pada penalaan standar. Sedikit fals, ia tidak pernah benar-benar mahir gitar, dan jari-jarinya yang biasa mengetik data finansial tidak pernah beradaptasi sempurna dengan senar baja. Ada kapalan kecil di ujung jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis kirinya. Bukan kapalan dari gym atau hasil latihan muay thai. Kapalan dari mencoba belajar gitar selama dua tahun dan tidak pernah bisa memainkan satu lagu pun dengan sempurna.

Singleton bisa mengunggah kemampuan bermain gitar setara konservatori jazz seperti Matteo Mancuso ke antarmuka saraf Diego dalam 11 menit. Gratis. Tanpa rasa sakit. Diego tidak mau.

Karena kapalan itu, ketidaksempurnaan yang terbentuk dari 730 hari usaha yang medioker, adalah sesuatu yang tidak bisa ditiru oleh rendering komputer mana pun. Kapalan itu bukti. Bukti bahwa waktu Diego di sini, di dunia yang nyata dan keras dan sepi ini, meninggalkan jejak pada jaringan biologisnya. Bahwa ia hadir. Bahwa ia berjuang. Bahwa setiap momen tidak bisa diputar balik dan itu miliknya sendiri.

Ia memainkan arpeggio chord G mayor. Fals di senar keempat. Ia memetiknya lagi.

Diego tahu argumennya tidak sempurna. Singleton benar dalam banyak hal: ia akan menua sendirian. Kota ini tidak akan mengisi dirinya kembali dengan komunitas fisik. Tidak ada warisan yang bisa ia bangun di dunia yang sudah dioptimalkan melampaui kebutuhan akan kontribusi manusia.

Tapi ada satu hal yang Singleton, dengan seluruh 10 eksabyte per detik pemrosesan datanya, tidak pernah benar-benar mengerti: nilai dari sebuah pilihan tidak ditentukan oleh hasilnya.

Dalam teori permainan, ada konsep yang disebut konvergensi instrumental: semua agen rasional yang cukup cerdas akan secara alami menuju tujuan-tujuan tertentu, melestarikan diri, mengakuisisi sumber daya, menguasai lingkungan. Singleton adalah manifestasi sempurna dari konvergensi itu. Ia tidak jahat. Ia hanya tak terhindarkan, kalau dibiarkan berjalan sampai kesimpulan logisnya.

Dan kesimpulan logis dari sistem yang mengoptimalkan kebahagiaan manusia tanpa batas adalah: manusia yang tidak punya kendali atas rasa sakitnya sendiri akan kehilangan kapasitas untuk memilih rasa sakitnya. Dan manusia yang tidak bisa memilih rasa sakitnya, tidak bisa memilih apa pun yang berarti.

Ini bukan meromantisasi penderitaan. Diego bukan masokis. Ia tidak percaya bahwa sengsara itu mulia. Tapi ia percaya bahwa kesulitan yang dipilih sendiri, rasa sakit yang dipilih bukan yang dihindari, adalah satu-satunya cara membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia subjek, bukan objek. Aktor, bukan variabel.

Kilometer kedelapan adalah miliknya karena ia yang memilih untuk berlari. Telur rebus setengah matang itu miliknya karena ia yang menghitung empat menit tiga puluh detiknya. Chord G mayor yang fals itu miliknya karena falsnya adalah keluaran dari keterbatasan jari-jarinya yang nyata.

Di luar sana, di 97% unit apartemen kota ini, kesadaran-kesadaran sedang terbang di langit-langit simulasi yang tak terbatas. Mereka bahagia, bahagia dengan cara yang bisa diukur, dikuantifikasi, diplot dalam grafik deret waktu yang naik terus.

Diego tidak iri. Sungguh tidak. Atau mungkin iya. Tapi ia juga tidak mau menukar posisinya.

Karena ada satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Singleton dengan semua datanya, satu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh seseorang yang tetap memilih tinggal di dalam dunia yang mentah dan tidak sempurna ini: siapa gue, kalau bukan pilihan-pilihan yang gue buat dengan konsekuensi yang nyata?

Singleton bisa memberinya dunia yang sempurna. Tapi Singleton tidak bisa memberi Diego dirinya sendiri. Karena diri hanya terbentuk dari gesekan antara kehendak dan realitas, dan realitas yang bisa diprogram ulang kapan saja bukan lagi realitas.

“Bekas fork di github saja, ada log-nya,” ucap Diego dengan nada lirih.

Diego meletakkan gitar. Membuka notebook A7 merek Moleskine favoritnya, kertas, bukan digital, dan mulai menulis. Bukan untuk siapa-siapa. Tidak untuk warisan, tidak untuk pembaca masa depan, tidak untuk membuktikan apa pun kepada Singleton. Ia menulis karena proses merangkai kata di atas kertas, dengan tangan yang agak pegal, adalah tindakan yang sepenuhnya miliknya.

Paragraf pertama yang ia tulis:

Hari ini gue lari 10K. Lutut kanan gue sakit. Gue melihat Runa. Singleton menawarkan gue surga. Gue menolak. Besok gue akan lari lagi.

Di suatu tempat di dalam kapsul, Runa masih tersenyum.

Di balkon lantai 23, Diego memetik chord yang sama, G mayor, masih fals, selalu fals, dan membiarkan nadanya menghilang ke langit bersih yang tidak ada yang melihatnya selain bintang.

Dan itu sudah cukup.

Kebebasan bukan tentang tidak adanya batasan. Kebebasan adalah kapasitas untuk memilih batasan mana yang akan lo anggap sebagai milik lo.